Thursday, 20 August 2009

TIDAK HANYA SEKEDAR BERKARYA



film Indonesia is Penuh kejutan Seperti anak kecil yang sedang tumbuh berkembang… dibilang bodo/konyol nggak.. pinter juga belum. Masih kecil, lemah tapi menyimpan banyak harapan dan kekuatan yang tidak disangka – sangka. ‘’ Ery Muhtar’’(FILM MAKER)

Berperawakan kurus dengan kulit putih serta rendah hati, dan murah senyum adalah sekilas gambaran pria kelahiran Magelang 21 Juni 1982. Ya Ery Muhtar (27) mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian Agronomi Universitas Padjajaran (UNPAD)Bandung semester akhir ini, adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ketika berumur 12 tahun ayahnya Letkol (purn) Maksum mengajak keluarganya untuk hijrah ke kotaBandung, dan menetap hingga saat ini. Alumni SMPN1(1997) dan SMUN2(2000) Bandung ini sangat memiliki minat yang besar pada dunia film, ‘’Awal nya saya bersama teman – teman mengeksplorasi secara otodidak tehnik pembuatan film’’ tegas kang Ery (sapaan akrab). Alhasil pada bulan Februari 2009 lalu, dari tangannya telah lahir sebuah film drama romansa. Hhmm mau tau liputannya, Berikut interview orangfilm dengan Ery Muhtar!.

Apa hubungannya Pertanian dengan Film kang?

Sama sekali tidak ada hubungannya, terutama dengan tanaman. Tetapi seandainya dunia pertanian masih berpikiran seperti itu maka pertanian akan terjebak dalam pergaulan antar tanaman saja .. hehehe.. . selain itu buat saya, Peran serta film sangat kental dengan kehidupan sosial – masyarakat, hal ini tidak bisa dianggap remeh bahkan bagi orang non pertanian sekalipun. Dalam masa – masa kejayaan wayang, seni ini berperan besar dalam media komunikasi. Perlahan – lahan melebur dan merubah kultur social dengan nilai – nilai yang dipaparkannya. Seperti halnya penyebaran islam, tentunya tidak pernah lepas dari media dalam hal ini seni, kaum muslim menyebutnya da’wah. Begitu juga invasi iklan produk dalam media. Jadi seandainya orang menganggap film dalam konteks seni/kebudayaan itu tidak penting atau tidak bisa mengenyangkan perut … sebaiknya kita berkaca dan melihat ke belakang (sejarah). Saya menganggap film sebagai bagian dari da’wah.

Typical Film apa yang kang Ery suka?

Film drama yang filosofis. Lagipula nggak perlu suka untuk menonton … Nonton itu nggak susah kok, cuma duduk diam mlongo... Apapun filmnya saya tonton, bahkan film porno skalipun. Yang jelas gambarnya harus bergerak dan nggak nyakitin mata.

Tema apa yang sih yang sering kang Ery angkat ke dalam film?

Temanya masih biasa saja, masih itu – itu aja.. hehehe.. yang masih hangat di kehidupan anak muda. Cinta. (^__^) … Oh yeah!

Ngomong – ngomong siapa sih Director kesukaan Kang Ery?

Saya menyukai film – film garapan Quentine Taranntino dan Teguh Karya.

Awalnya gimana niy kang kok bisa tertarik dengan dunia Film?

mungkin temen – temen heran mengapa bisa saya berlatar belakang pendidikan sebagai mahasiswa pertanian. Saya memulainya pertama kali di kampus, semenjak tahun 2003. Kami yang waktu itu tergabung dalam bidang dokumentasi PAM/Penerimaan Angkata Muda 2003 (semacam kegitan pengenalan kampus/ospek) mengeksplorasi secara otodidak teknis pembuatan film. Tidak banyak yang bisa kami pelajari, hanya sebatas “shoot” – “capture” – “edit” – “play” bersama teman – teman yang penuh keingintahuan. Kami benar – benar “ngulik”. Terciptalah karya PAM 2004, sebuah dokumentasi potongan – potongan clip berdurasi total 1 jam. Sukses dengan release PAM 2004, kami semua tertarik untuk mengikuti suatu ajang festival film indie di Global TV (GIFF’05). Ini yang menjadi film karya saya pertama kali, judulnya “Kayla”(2005). Drama romansa berdurasi 32 menit, masih amatir dengan menggunakan 1 buah handycam (single CCD) dan berbiaya rendah.

Selanjutnya saya tidak berhenti membuat film, hanya saja lebih kepada penguasaan teknis film dengan membantu teman – teman saya yang aktif membuat film komunitas di Bandung. Menjadi kameraman, editor, actor, penulis naskah, art, baik dalam produksi film pendek, clip video, clip music, dokumentasi, dll. Sebab menurut saya, sebagai orang yang berkeinginan menjadi seorang sutradara harus menguasai semua hal apapun yang berhubungan dengan film. Cari pengalaman-lah’ .. hahaha… . Terakhir saya magang di Dapur Film membantu Mas Fajar Nugros sebagai BTS (Behind The Scene) film “Tarix Jabrix”, memang jabatan yang nggak penting tapi dengan terlibat pada produksi film skala besar tentunya banyak hal yang bisa saya pelajari J.

Selain itu factor Apa yang mempengaruhi kang Ery untuk terjun ke dunia Film?

Potensi, seluruh kekuatan yang terkandung di dalamnya. Film menyajikan informasi terencana dalam gambar dan suara. Teknologi yang sangat ampuh, mengingat penyebarannya dapat dilakukan begitu mudah.. screening di bioskop, media cakram padat (DVD/VCD/HDBluerray), internet (youtube/facebook/myspace) dan televisi.

kiprah kang ery masuk ke industri film khusunya indie filmmaker, bisa di jelasin sedikit kang?

Duh, saya masih filmmaker biasa saja. Dibilang kiprah kesannya terasa terlalu berlebihan. Yang saya sukai dalam produksi film adalah rasa kebersamaan. Oleh karena itu sebabnya maka bersama teman – teman, kami aktif berkumpul dan berkarya. Kami menamakannya “Rollingaction”, suatu assosiasi komunitas indie filmmaker di Bandung. Rollingaction aktif screening - mempertontonkan karya masing – masing komunitas, workshop – berbagi ilmu perfilmman (walaupun tidak banyak yang kami ketahui) dan terus menjalin silaturahmi dengan semua komunitas yang menganggap dirinya pecinta film baik aktif maupun pasif.

Karya “Rollingaction” yang selalu kami banggakan dan terus bertahan sejak tahun 2005 adalah acara televisi berdurasi 1 jam tentang screening film indie, acara itu bernama “Rollingaction”. Ini adalah suatu bentuk keinginan kami yang mengharapkan film baik itu indie atau amatir dapat diterima oleh masyarakat. Acara TV mingguan ini mungkin bukan yang pertama dengan tema seperti itu, tapi ini adalah acara televisi pertama yang digarap oleh komunitas film indie; dengan segala keterbatasan kami menggunakan kamera handycam untuk membuat acara tv program tayangan wawancara dengan filmmaker. Dalam organisasi ini saya menjabat sebagai President, masih belum juga lengser dalam 4 tahun ini ... “ada yang mau gantiin saya? (^__^)”

Mengapa sih kang memilih jalur indie, apa keuntungan dan kekurangannya, jika dilihat dari segi material ~ kepuasan?

Saya memilih jalur indie karena masih baru berkecimpung di dunia film, latar belakangnya juga bukan di film lagi pula mau sekolah juga mahal! Saya bisa belajar banyak. Keuntungannya? .. nonton aja sudah puas apalagi bikinnya (^o^)

Menurut akang apa yang mebedakan film indie dan film mainstream jika dilihat dari segi kwalitas dan idea?

Film mainstream melihat pasar (market) orientasi bisnis, anggapannya sang sutradara mewakili jutaan penonton dalam mengarahkan filmnya. Sedangkan film indie dilihat market, sang sutradara berusaha mengendalikan selera jutaan penonton yang akan menikmati karyanya. Jelas susah bener jadi filmmaker indie (bukan filmmaker onani lho..).

Kualitas? Dua – duanya juga punya kualitas, tapi semua itu kembali lagi kepada penonton. Dan sekarang kita melihat dalam panggung perfilmman, kedua kutub tersebut (mainstream dan indie) saling ejek mengejek … lucu ya. Dari pada sibuk yang beginian mending kita bikin film deh, ayo sekarang kita bicara dengan karya.

Opini saya, menjadi filmmaker indie adalah sebuah keinginan setiap filmmaker. Saya membuat film walaupun dibilang amatiran semua itu luapan hati. Pasti berat rasanya menjadi filmmaker mainstream yang idenya “diperkosa” oleh jutaan penonton.

Membuat film tentu terkait dengan budget dan alat, bagaimana akang mengatasi itu semua?

Tentunya dengan kebersamaan, setiap orang yang terlibat dalam pembuatan film dan bahkan penonton sekalipun harus “memiliki” film tersebut. Kedekatan harus dibangun dari mulai cerita, proses pra-produksi sampai distribusi. Ingat ya, sampai distribusi … akhir dari sebuah film adalah pembuatan film yang baru. Oleh karena itu biaya dan kepercayaan jangan sampai tidak kembali sehingga dalam setiap karya saya selalu mempertimbangkan dan sedikit berspekulasi dengan alat, crew, cost pada tingkat pengembalian yang pasti. Secara pribadi tidak banyak yang saya keluarkan, hal itu karena saya melibatkan banyak sekali orang untuk meringankan beban satu sama lain.

Denger – denger kang Ery baru saja membuat film? Bisa di ceritain kang film terbarunya ini?

Judulnya “Trophy”. Nggak usah dijelasin ya, mendingan nonton aja deh di blitzmegaplex bandung PVJ tanggal 5 juli 2009. Tiketnya terbatas lho, cuma tayang sehari saja (hihihi… ikut promosi).

Bisa dijelaskan ide awalnya ‘’Trophy’’ seperti apa?

Ide awalnya bermula dari lingkungan kampus. Dimana semuanya kental dengan nuansa anak muda, sportifitas, romansa, solidaritas .. kurang lebih tidak ada yang baru. Hanya saja diangkat dengan dengan gaya yang berbeda. Cerita ini digarap bersama – sama dengan kru dan pemain, bahkan pengembangan karakter diserahkan kepada pemain itu sendiri supaya mereka tidak kesusahan dalam memainkan perannya. Walaupun begitu, semuanya terencana. Saya bertidak sebagai eksekutor cerita, alur dibiarkan mengalir dan saya yang mengarahkannya. Proses ini begitu singkat dan begitu menyenangkan.

Berapa crew yang anda libatkan?

Kurang lebih 50an orang. (Kru dan pemain). Semuanya mahasiswa fakultas pertanian UNPAD yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa The DOCK FAPERTA.

Siapa yang bertanggung jawab sebagai producer dalam film ini?

Aldi

Berapa budget yang disediakan oleh producer?

Budget yang disediakan Rp.8.500.000,- . Dana tersebut terkumpul dari rereongan tiap kru dan pemain, bantuan pribadi Rektor UNPAD dan Dekan FAPERTA UNPAD.

Siapa orang yang dipercaya oleh producer untuk penulisan naskah film ini?

Semuanya ikut terlibat di dalam penulisan naskah film.

Berapa lama proses persiapan produksi? (CASTING-READING-Final draft)

Terhitung 7 hari saja.

Setelah memlewati reading, Apakah actor / actrees nya sesuai dengan kemauan akang?

Tidak, oleh sebab itu.. ceritanya yang agak sedikit dirubah.

bagaimana dengan cuaca pada saat itu?

Sangat mendukung! Ntah mengapa dalam musim hujan yang berkepanjangan kala itu tiba – tiba 5 hari berturut – turut tidak turun hujan. Hari pertama yang membuat saya tegang.. hujan rintik2 di pagi hari, padahal hari itu adalah syuting outdoor dan tidak dapat dipindahkan … syukurlah.

Berapa titik lokasi yang anda gunakan dan bagaimana dengan set nya?

Semuanya ada 3 lokasi, dikampus (7 titik), di lapangan futsal bikasoga-buah batu bandung, dan kamar saya sendiri … hahahaha….

Kendala apa saja yang anda hadapi?

Dari mulai alat, H-1 ternyata kamera yang kami pesan/sewa (Sony HDV) tidak bisa dipakai karena digunakan untuk shooting mendadak pemiliknya.(sehingga itu kami meminjamnya dari Jakarta). Reading yang belum matang, sehingga sebagian besar pengaturan ekspresi dilakukan di lokasi syuting. Pemain yang ternyata belum pernah bermain bola … (sehingga harus diajarin/belajar main bola dulu). Lokasi shooting (kampus) yang kebetulan sedang direnovasi tepat di hari , dll.

Kendala sangat banyak! Tetapi karena persiapannya cukup matang dan juga kerjasama tim yang baik, semua itu bisa terlewatkan.

Siapa actor/actrees yang terlibat?

Teman kuliah saya sendiri, mereka merupakan adik kelas yang kebetulan waktu itu masih liburan kuliah. Nuraini, Farly, dan Ligarna.

Camera apa yang anda gunakan?

Canon A1 HDV.

Bagaimana dengan mood, jika dilihat dari sudut sinematografi nya?

Mood, wow.. anak muda banget lah.. rock n’roll! Hahaha. Pengennya sih film cinta bisa ngubek – ngubek perasaan, nggak tau yang ini mah.. mudah – mudahan terasa feel-nya J.

Berapa Durasi film ini?

Durasi total 46 menit.

Apa harapan akang setelah orang menonton film ini?

Jadi suka olah raga, jadi pada setia dan nggak selingkuh kalo punya pasangan, jadi pada rajin kuliah, jadi pada semangat, OK.

(… Jadi kepengen bikin film juga kali ya?! Soalnya asyik banget sih..! huahahaha)

Apakah ada band lokal yang terlibat untuk pembuatan OST?

Iya, ada dua band yang saya libatkan “The Retro” dan “The Experience”. The Experience sudah membuat satu album, mereka sudah label tentunya. Kebetulan saja dia juga teman baik saya di komunitas film “Rollingaction” (dia salah satu pendirinya juga), begitu juga dengan The Retro (yang juga anggota aktif “Rollingaction”). Rejeki banyak temen kali ya? Peran “Rollingaction” sangat membantu saya dalam penggarapan film ini.

Akan dibawa kemana nantinya film ‘’Thropy’’ ini?

Kampus, baik dalam kampus maupun antar kampus. Screening festival – festival film, syukur – syukur sampai luar negeri… amien J.

Berarti ‘’Thropy’’ adalah film ke 2 kang Ery?

Yup.. film pertama saya Kayla (2005) dan yang ke duaThropy (2009)

Dibalik perencanaan dan pembuatan sebuah film sudah pasti ada budget, dan setelah film itu selesai tentunya mengharapkan profit, sejauh ini pendistribusiannya seperti apa?

Bicara film, walaupun industry/indie/amatir sekalipun tetap harus mempertimbangkan profit yang akan didapatkan (baik dari segi material maupun immaterial), kalau tidak begitu.. buat apa bikin film? Walaupun saya idealis dalam berkarya, tetapi saya tidak lupa untuk mempertimbangkan “market”. Film yang menurut saya bagus tentu harus dilihat dalam kacamata sutradara sebagai penonton. Sehingga film tersebut harus bisa dinikmati oleh orang lain. Seandainya tidak seperti itu … saya menyebutnya film jelek atau film “onani” (shot sendiri, edit sendiri, nonton sendiri, nyengir sendiri)… heuheuheu..

Kalau film tersebut sudah bagus, tentu saja ada peluang untuk mendapatkan profit. Hanya saja harus tepat penonton. Disini yang ingin saya kemukakan bahwa, film tsb haruslah “bagus”, barulah kemudian bicara distribusi.. kalo film jelek ya jangan di distribusikan (maksud saya film jelek adalah film “onani” yang saya jelaskan sebelumnya).

Seandainya yang dicari adalah profit material, bicara distribusi ada 3 strategi yang baru saya ketahui :

Screening tertutup, seperti bioskop/auditorium. Karya yang diputar dapat ditonton dengan tebusan tiket (ticketing).

Screening media massa, seperti televisi. Media televisi didukung oleh kampanye/iklan yang mengakomodasi kepentingan bisnis. Seandainya kita bisa masuk sebagai “event” broadcastnya, tentu peran film kita akan mendapatkan imbalan sesuai yang telah disepakati (maksudnya dibeli)

Koleksi film dalam media penyimpanan, contohnya DVD/VCD. Tidak sedikit kolektor yang mengumpulkan film, apalagi film tersebut jarang ditemui. Bisa jadi apabila seorang sutradara sukses, maka film – film release pertamanya (indie/amatir) akan laku bak barang antik.Tentunya yang ingin saya garis bawahi, dalam menyediakan/menghadirkan ketiga strategi tersebut juga membutuhkan cost/pengeluaran yang harus terencana, seperti sewa bioskop/auditorium, surat izin, biaya cetak kepingan DVD, dan packaging campaign maupun produk. Jangan sampai besar pasak daripada tiang ya... Tetap mempertimbangkan aspek daya beli penonton sebagai suatu kepentingan bisnis.

Film Indonesia itu seperti apa menurut anda?

Penuh kejutan! Seperti anak kecil yang sedang tumbuh berkembang… dibilang bodo/konyol nggak.. pinter juga belum. Masih kecil, lemah tapi menyimpan banyak harapan dan kekuatan yang tidak disangka – sangka.

Sejauh mana idealisme akang mempengaruhi kreativitas kerja pada saat di lokasi?

Kecintaan saya tertuju pada membuat film, proses – proses tersebut membuat saya ketagihan dalam bekerja (membuat film). Idealisme tetap berdiri di belakang saya, menjadi pilar yang menyokong film – film besutan saya. Tapi semuanya terus berubah, lingkungan, teman – teman, keinginan pasar, teknologi, … nilai… . Yang kadang membuat saya terombang – ambing. Perubahan – perubahan itu selalu aku ikuti, tetapi tidak membuat saya kehilangan arah, terutama dengan nilai. Saya menyukai sesuatu yang baru, tetapi tetap saja ada yang selalu dipertahankan ;).

Bagaimana respon audience dengan karya2 yang kang buat?

Mereka semua kagum, terutama dengan keterbatasan – keterbatasan yang saya miliki.

Bagaimana tanggapan akang tentang UU pornography apakah sebagai film maker, merasa terbebani karena bisa saja kreativitas akang tehalang-halangi?

Untuk komersil tentu tidak. Saya mendukung niat baik UU Pornography … tapi tentunya aturan tersebut haruslah benar – benar jelas & tidak menjebak… melewati proses, evaluasi, dan sosialisasi mengingat Indonesia sangat beragam kebudayaannya.

Untuk kepentingan pribadi itu sangat mengganggu. Kalo gw mau bikin untuk kepentingan pribadi gimana? Seperti film “onani?” (maksud saya : film shot sendiri, capture sendiri, edit sendiri, nonton sendiri, nyengir sendiri..hihihi). Semuanya sendiri biar nggak kemana – mana.. hahaha… malu ah masa orang – orang pada nonton film jelek gw. Film yang bagus dong yang dipertontonkan, OK! J.

Apakah badan sensor menurut akang masi diperlukan?

Ya, tentu saya paham niat baiknya. Tapi harus jelas dulu aturan pemotongannya, sehingga filmmaker bisa menghidari adegan – adegan tersebut. Sosialisasi aturan sensor juga belum ada ..? (saya juga belum tau aturan – aturannya seperti apa)

Semua berawal dari mimpi, apa film impian anda?

Jadi Sutradara hebat! Yang melahirkan karya – karya berkualitas internasional/dunia (film – film bagus). Padahal impian saya di film hanya satu, ingin bikin film fiksi.. yang maaf saya tidak bisa ceritakan dahulu.. . Bersetting cerita ramayana/mahabarata (seperti Lord of the Ring lah) dengan mengangkat cerita – cerita legenda lokal yang semuanya saling berhubungan. Maaf belum bisa cerita panjang lebar, saya ingin sekali membuat film itu sampai – sampai saya putuskan sebagai karya terakhir saya di bidang film.

Harapan akang 5 tahun kedepan untuk film Indonesia?

Film Indonesia makin banyak lah! Kualitasnya makin baik, bermutu dan masyarakat makin appreciate dengan film – film Indonesia.

Apakah akang memperhatikan aspek pendidikan dari karya - karya anda?

Hihihi… belum. Tapi dalam karya – karya selanjutnya itu pasti ;).

Karakteristik film yang bagus menurut akang seperti apa sih?

Secara audio visual tertata baik bahkan menakjubkan. Cerita yang dalam dengan acting pemain yang kuat. Tentunya memiliki nilai, hikmah yang bisa dibawa pulang dari bioskop (yang nggak ada habis – habisnya). J

Sebaiknya jika dihubungkan dengan kondisi Indonesia seperti sekarang ini, film seperti apa yang bagus untuk ditonton?

Film – film positif, film – film yang bagus bukan film jelek apalagi film porno. Film yang mampu menggerakkan manusia seutuhnya dari dalam batin, Film yang inspiratif! Film – film kepahlawanan… Film yang memacu kita ke arah yang lebih baik.

Walaupun begitu, ntah film bagus atau jelek pastinya ada hal yang kita bisa petik di akhirnya. So, tunggu apa lagi, daripada sekedar menonton lebih baik kita membuat film yang bagus! (bukan film jelek lho.. hohoho)

Ok thanks Kang Ery Sukses selalu Dengan Karya – karya nya!!!.........

1 comment: